Pengorbanan perempuan lebih besar dari lelaki dalam hal mengasuh anak. Hal ini dijelaskan secara ilmiah oleh dokter Ryu Hasan. Perempuan hebat ya.
Eits, sebelum keburu emosi karena baca judul artikelnya doang, yuk simak dulu isi artikelnya. Di dalam artikel ini, spesialis bedah syaraf dr. Ryu Hasan, Sp. Bs, mencoba menjelaskan bagaimana sejatinya pengorbanan seorang ibu lebih besar dari ayah.


Baca sampai habis, Bunda pasti setuju deh!



Pengorbanan seorang ibu lebih besar, terutama saat menyusui bayi
Dunia ini memang bukan sebuah persaingan antara perempuan dan laki-laki. Namun, ada sebuah teori matematis bernama Zero Sum Game. Dalam sistem reproduksi dan evolusi manusia, pengorbanan perempuan lebih besar dibanding lelaki sehinggaZero Sum Game menjadi non zero sum game.
Dalam zero sum game ini, dua pihak yang saling berhadapan nantinya akan menghasilkan nilai yang impas. Namun, non zero sum game yang terjadi pada manusia ini nantinya justru memperlihatkan bahwa secara biologis, pengorbanan perempuan lebih besar dari lelaki sekalipun ada aspek lain yang tetap harus dilihat.


Saat wanita menyusui, sebenarnya ia adalah pihak yang dikorbankan sekalipun manfaat besarnya lebih banyak dirasakan oleh bayi. Karena inilah secara biologis pengorbanan perempuan lebih besar dari lelaki.


Bingung? Jangan khawatir, dr. Ryu akan menjelaskan teori yang membuktikan bahwa pengorbanan perempuan lebih besar daripada lelaki tersebut dengan singkat lewat rangkaian kultwit alias kuliah twit berikut ini.


Kehidupan di dunia ini ya memang “zero-sum game” alias permainan impas2an, untuk bertahan hidup seekor beruang kutub hrs membunuh singa laut
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Hanya manusia yg bisa ngarang “zero-sum game” ini jadi “non zero-sum game”, everybody happy, dg cara glorifikasi dan sakralisasi contohnya.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Misalnya “breast feeding”, dlm itung2an “zero-sum game” yang dirugikan ya induknya, tapi manusia bisa mengglorifikasi soal ibu menyusui ini
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Dorongan genetik punya keturunan adalah faktor terbesar eksistensi spesies, pada mamalia perempuanlah yg lebih berperan dalam urusan ini.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Pada semua spesies berjenis kelamin, kaum perempuan membayar harga lebih tinggi dari pada laki2 dlm urusan medapatkan dan mengasuh keturunan
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Urusan kehamilan dan melahirkan, secara biologi perempuan mempunyai resiko ancaman kesehatan bahkan kematian. Laki2 cuma donor sperma aja.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Juga proses menyususi, manfaat bagi bayinya sudah jelas, tapi bagi si ibu ada harga yg harus dibayar. Hukum “zero-sum game” berlaku disini.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Secara evolusioner ASI jelas2 memberi keuntungan proses berkembang biak. Tapi setiap keuntungan ada biayanya, ada konsekwensi yg hrs dibayar
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Siapa bilang ibu menyusui jadi lebih sehat? Nih ya saya kasik tahu…
*siap2 dipempar kulit pete penyembah ASI
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Artikel terkait: Penjelasan dokter Wiyarni Pambudi soal bayi yang meninggal karena dehidrasi.
Salah satu yg merugikan perempuan yg menyusui adalah kemampuan otaknya, fokus mental turun, ibu menjadi loyo dan tidak fokus dalam berfikir.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Otak yg blur banyak ditemui pada ibu2 pasca persalinan, penyusuan bisa memperparah dan memperlama keadaan loyo dan sedikit tdk fokus ini.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Bagian otak perempuan yg bertanggung jawab atas fokus dan konsentrasi disibukkan tugas melindungi dan melacak bayi selama 6 bulan pertama.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Selain krn kurang tidur, otak perempuan setelah melahirkan memang sedikit bengkak, kembali keukuran normal di bulan ke-6 pasca persalinan.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Riset yg dilakukan mendapati penurunan ketrampilan verbal perempuan2 yg menyusui, penurunan ini hilang setelah mereka tidak menyusui lagi.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Pada mayoritas perempuan, kondisi yg sedikit gampang bingung itu dianggap sebagai “harga yg murah” demi mendapatkan keuntungan penyusuan.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Makin lama dan sering bayi ngisep puting, makin terpicu respon prolactin-oksitosin di otak ibu. Tidak selalu menguntungkan sih bagi ibu.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Koalisi ibu-bayi adalah persekutuan penting dlm aksi neurologis persusuan ini. Tentu saja si bayi yg dapat keuntungan dari persekutuan ini.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Keuntungan langsung bagi bayi adlh makanan dan kenyamanan. Oksitosin melebarkan pembuluh darah di dada ibu memberi kehangatan bagi anaknya.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Ketenangan bayi saat disusui bukan hanya karena ada makanan tapi juga gelombang hormon oksitosin di otaknya yg menyebabkan rasa nyaman itu.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Ya tapi ketenangan bayi tidak bisa selalu bisa didapatkan dengan ngASI, bayi yg sakit misalnya meskipun disusui ya tetap saja gelisah.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Catatan ya: ASI adalah makanan, bukan obat, jadi ya jelas salah kalau ada yg bilang AS bisa ngobati penyakit ini penyakit itu.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Senenarnya banyak ibu yg mengalami gejala “sakaw” kalau secara fisik terpisah dari bayinya. Mereka merasa takut, cemas bahkan panik.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Sakaw atau withdrawal syndrome pada perempuan menyusui ini, sekarang sudah diketahui dikarenakan keadaan neurokimiawi di otak.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Otak adalah instrumen yg selaras, perpisahan dg bayi yg masih disusui bisa mengacaukan otak emosi (suasana perasaan) seorang perempuan.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Perasaan nggak karuan ini krn turunnya oksitosin yg bergungsi menghambat stres di otak. Persis orang kasmaran saat berjauhan dg pasangannya.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Banyak ibu menyusui merasakan gejala “sakaw” saat2 selepas masa cuti, krn menyapih sering terjadi bersamaan dg habis masa cuti kerja.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Perempuan2 yg menyapih bayinya sangat mungkin jatuh dlm keguncangan dan kecemasan, akibat turunnya kadar oksitosin scr drastis di otaknya.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Saat masa cuti, perempuan medapat serbuan oksitosin yg membanjiri otak mereka setiap bbrp jam akibat menyusui. Ini membuat mereka nyaman.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Saat mulai kerja, pasokan oksitosin itu terputus, krn hormon ini hanya bertahan 1-3 jam dlm aliran darah dan otak, wajar kalau jadi cemas.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Banyak juga perempuan yg bisa meredakan gejala kecemasan ini dg memompa ASI mrk di tempat kerja dan pelan2 mengurangi aktifitas menyusui.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Banyak juga perempuan yg bisa meredakan gejala kecemasan ini dg memompa ASI mrk di tempat kerja dan pelan2 mengurangi aktifitas menyusui.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017


Dengan mengetahui proses neurokimiawi yg terjadi di otak perempuan yg menyusui, kita bisa menyiasati supaya peluang kecemasan diminimalkan.
— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017
Gitu lhooo, wis ah…

— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017
Happy #breastfeedingweek

— Ryu Hasan (@ryuhasan) August 2, 2017

Anehnya, sekalipun secara saintifik pengorbanan wanita lebih besar, namun ada banyak ibu yang sama sekali tidak terbebani untuk menyusui anaknya. Di sinilah cinta kasih yang tak dapat dihitung dengan matematika berperan besar dalam perkembangan evolusi manusia.


Para Ayah, karena pengorbanan Anda secara bilogis lebih sedikit dari istri, maka dari itu penting untuk jadi pendamping yang menyediakan semua kebutuhan yang dibutuhkan ibu ketika menyusui. Karena pengorbanan istri saat melahirkan dan menyusui sungguh tidak dapat dibalas setimpal dengan cara apapun.
Para Bunda setuju dengan penjelasan bahwa pengorbanan perempuan lebih besar dari lelaki ini, kan? Yuk saling menguatkan.
Baca juga:
ASI vs Susu Formula: Mana yang Lebih Mahal? Bunda Wajib Tahu Perbandingannya
ASI vs susu formula memang sering menimbulkan perdebatan antara para ibu. Namun sebenarnya, lebih mahal mana sih antara keduanya? Mari kita hitung.
theAsianparent Indonesia 0


Syahar Banu
Menggemari bacaan fiksi, filsafat, politik, isu-isu HAM dan perempuan. Bisa dihubungi dibanu@ tickledmedia.comatau Twitter @syahbanu.

Untuk Suami Begini Cara Terapi Pijat Payudara Kepada Bunda Untuk Lancarkan ASI CARA PIJAT KLIK DISINI!!!